Kalau ngomongin tools monitoring di Linux, biasanya yang langsung kepikiran itu ya top, htop, iostat, atau vmstat. Tapi di antara sekian banyak tools itu, ada satu nama yang sering luput dari perhatian, padahal fungsinya gak kalah keren dan bahkan bisa menggabungkan semuanya jadi satu tampilan yang ringkas: dstat. Tool ini ibarat gabungan multi fungsi dari berbagai perintah monitoring klasik, tapi dibungkus dalam antarmuka yang bersih dan real-time. Cocok banget buat kalian yang sering mantengin performa server atau sekadar pengen tahu apa yang lagi terjadi di balik layar sistem Linux kalian.

dstat sendiri adalah command-line tool yang bisa menampilkan statistik performa sistem secara langsung alias live. Statistik yang ditampilkan cukup lengkap: mulai dari penggunaan CPU, aktivitas disk, trafik jaringan, penggunaan memori, hingga proses paging dan interrupt sistem. Dibanding tools seperti top yang fokus ke proses, atau iostat yang cuma kasih info disk I/O, dstat menyajikan semuanya dalam satu tabel dinamis yang enak dilihat dan gampang dimengerti. Output-nya pun sudah berwarna (dengan dukungan terminal yang sesuai), jadi secara visual cukup membantu buat deteksi anomali.

Untuk installasinya juga gampang banget. Di sistem berbasis Debian/Ubuntu, cukup jalankan sudo apt install dstat. Kalau kalian pakai RHEL, CentOS, atau Fedora, tinggal ketik sudo dnf install dstat. Di Arch Linux juga tersedia langsung lewat pacman -S dstat. Setelah terinstall, kalian bisa langsung coba perintah dstat di terminal, dan tampilan monitoring default akan langsung muncul. Secara default, dia akan menampilkan statistik CPU, disk, network, paging, dan sistem (seperti context switch dan interrupts) dalam satu baris yang diperbarui setiap detik.

Yang bikin dstat makin powerful adalah fleksibilitasnya. Kalian bisa pilih data apa saja yang ingin ditampilkan sesuai kebutuhan. Misalnya, mau cek pemakaian CPU, RAM, dan disk? Tinggal jalankan dstat -c -m -d. Kalau fokus kalian ke trafik jaringan, cukup ketik dstat -n. Bahkan kalau ingin melihat semua metrik penting sekaligus, bisa pakai dstat -cdngym. Output-nya bisa diperpanjang selama kalian butuh, dan bisa dihentikan kapan saja dengan Ctrl+C.

Salah satu fitur yang sering diabaikan tapi sangat berguna dari dstat adalah kemampuannya untuk menyimpan output ke dalam file CSV. Dengan perintah seperti dstat -cdngym --output monitoring.csv, kalian bisa logging performa server selama proses tertentu misalnya saat sedang deploy aplikasi atau stress test lalu analisa hasilnya di spreadsheet seperti Excel atau LibreOffice. Ini sangat membantu buat troubleshooting pasca kejadian, atau sekadar buat dokumentasi laporan teknis.

Buat kalian yang pengen lebih spesifik, dstat juga punya plugin tambahan seperti --top-cpu untuk menampilkan proses dengan konsumsi CPU tertinggi, atau --top-mem untuk proses paling boros memori. Ada juga plugin buat cek suhu hardware, penggunaan baterai, bahkan temperatur harddisk (jika sistem dan sensor mendukung). Intinya, dstat itu gak cuma soal performa dasar, tapi bisa dimodifikasi dan diperluas sesuai kebutuhan teknis kalian.

Kapan sih waktu paling pas buat pakai dstat? Banyak. Misalnya saat server mulai lemot dan kalian gak tahu bottleneck-nya di mana, dstat bisa langsung kasih gambaran apakah masalahnya di CPU, disk I/O, atau network. Atau saat kalian mau memastikan server tetap stabil pas lagi deploy atau migrasi aplikasi penting. Bahkan untuk penggunaan harian, dstat bisa jadi cara cepat buat ngecek apakah sistem kalian lagi idle atau kerja keras tanpa harus buka berbagai perintah berbeda.

Kesimpulannya, dstat adalah tools monitoring Linux yang underrated tapi super berguna. Dia ringan, fleksibel, dan bisa menggantikan banyak tools lain dalam satu layar terminal. Buat kalian yang belum pernah pakai, cobain deh sekali aja. Siapa tahu setelah nyoba, kalian jadi makin betah ngoprek Linux karena punya senjata tambahan yang powerful tapi tetap simpel. Jadi, daripada terus-terusan buka banyak terminal atau ngetik perintah berbeda buat cek performa sistem, kenapa gak pakai satu tool yang bisa handle semuanya? Jawabannya ya dstat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *