Saya dulu sering merasa waktu selalu kurang.
Setiap hari terasa cepat, padat, dan melelahkan, tapi anehnya saya tidak tahu ke mana semua energi itu pergi. Pagi dimulai dengan alarm yang saya tunda berkali-kali, siang diisi pekerjaan yang datang silih berganti, dan malam ditutup dengan layar ponsel yang terus menyala tanpa tujuan jelas.
Saya sering bilang pada diri sendiri, “Nanti saja.”
Nanti mengerjakan tugas penting.
Nanti beristirahat dengan benar.
Nanti memikirkan diri sendiri.
Sampai suatu malam, saya sadar bahwa hari itu kembali berlalu tanpa benar-benar saya jalani. Bukan karena saya tidak sibuk, tapi karena saya tidak hadir sepenuhnya. Di situlah saya mulai mengerti: masalahnya bukan pada waktu, melainkan pada cara saya memperlakukannya.
Saya mulai pelan-pelan mengubah kebiasaan. Tidak dengan jadwal ketat atau target berlebihan, hanya dengan satu hal sederhana: memilih apa yang benar-benar penting hari itu. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus, dan tidak semua undangan harus diterima.
Dari situ, saya memahami bahwa manajemen waktu bukan tentang memadatkan hari, melainkan memberi ruang. Ruang untuk fokus, ruang untuk berhenti, dan ruang untuk bernapas. Istirahat bukan musuh produktivitas, dan diam bukan berarti malas.
Sekarang, saya masih belajar. Masih sering tergoda menunda, masih kadang kehilangan arah. Tapi setidaknya, saya tahu satu hal: waktu tidak akan pernah kembali, dan setiap hari layak dijalani dengan sadar.
Karena pada akhirnya, mengatur waktu adalah cara paling sederhana untuk menghargai hidup saya sendiri.