30 Hari Merubah Kebiasaan di Bulan Ramadhan

Di tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman selama bulan Ramadhan ini, di mana saya menantang diri sendiri untuk merubah kebiasaan saya selama 30 hari penuh. Sebenarnya ini masih belum genap 30 hari di bulan Ramadhan, karena saya menulis ini beberapa hari sebelum Lebaran dan masih ada beberapa hari tersisa. Tapi perubahan ini sebenarnya sudah saya mulai bahkan sebelum Ramadhan, sekitar satu minggu sebelumnya. Di minggu itu saya mulai membiasakan diri untuk merubah beberapa kebiasaan agar ketika Ramadhan datang saya sudah lebih siap.

Catatan dulu ya, tulisan ini bukan bermaksud untuk sombong atau merasa lebih baik dari orang lain, tapi hanya sekadar berbagi pengalaman saja. Jadi satu minggu sebelum Ramadhan itu saya mulai mencoba merubah kebiasaan saya. Bukan berubah jadi ultraman atau power ranger ya 🙃, tapi lebih ke memperbaiki kebiasaan sehari-hari yang sebelumnya kurang baik.

Kebiasaan pertama yang saya ubah adalah soal tidur. Sebelumnya, di hari biasa saya sering tidur sekitar jam 11 malam bahkan sampai jam 12 malam, biasanya karena membaca komik atau bermain handphone. Lalu di minggu sebelum Ramadhan itu saya mulai membiasakan diri untuk tidur lebih awal, maksimal jam 9 malam, dan paling telat sekali jam 10 malam sudah harus di kasur dan tidur. Awalnya cukup sulit karena tentu saja ada distraksi dari handphone. Tapi saya mencoba cara sederhana untuk mengatasinya. Di sore hari saya sengaja tidak mengecas handphone dan membiarkan baterainya habis. Baru ketika mau tidur saya cas kembali. Dengan begitu saya tidak terdistraksi untuk bermain handphone di malam hari. Alhamdulillah sampai sekarang kebiasaan itu masih berjalan terus.

Kebiasaan berikutnya masih berkaitan dengan tidur. Karena saya tidur lebih awal, otomatis saya bangun lebih pagi, biasanya sekitar jam 4, jam setengah 4, bahkan kadang jam 3 pagi. Setiap bangun pagi saya langsung mandi. Pokoknya tidak ada alasan apa pun untuk menunda mandi dan sholat tahajud walaupun ada bolong bolong nya. Awalnya memang agak berat, karena bangun jam 3 pagi masih mengantuk lalu harus mandi dan sholat tahajud. Tapi saya paksa diri saya sendiri untuk tetap melakukannya. Setelah mandi biasanya badan terasa lebih segar dan lebih siap untuk memulai aktivitas.

Di minggu pertama itu juga saya mulai membiasakan diri untuk membaca Al-Qur’an minimal satu halaman, dan setiap selesai sholat saya usahakan membaca minimal satu halaman lagi. Jujur saja, terakhir kali saya membaca Al-Qur’an secara rutin itu waktu masih SD. Bisa dibilang saya sudah cukup jauh dari kebiasaan itu. Tapi di Ramadhan kali ini saya mencoba menargetkan untuk membaca satu juz setiap hari. Alhamdulillah sampai sekarang saya sudah menyelesaikan Juz ke-25, tinggal lima juz lagi. Target saya adalah bisa khatam sebelum Ramadhan selesai, lalu mengulang lagi dari juz awal.

Tantangannya tentu ada ketika hari kerja dan kuliah, karena dari pagi sampai sore ada pekerjaan dan malam kuliah. Karena itu saya membuat strategi sederhana supaya target one day one juz tetap tercapai. Biasanya dalam satu juz terdapat sekitar 8 sampai 9 halaman yang saya bagi waktunya. Saya biasanya fokus membaca setelah Maghrib dan setelah Subuh. Misalnya kalau ada 8 halaman, saya bagi menjadi 4 halaman setelah Maghrib dan 4 halaman setelah Subuh. Kalau ada 9 halaman biasanya 6 halaman setelah Maghrib dan 3 halaman setelah Subuh. Cara ini saya ulang setiap hari sampai sekarang.

Setelah selesai membaca Al-Qur’an di waktu Subuh biasanya hari sudah mulai pagi, dan saya mencoba untuk tidak tidur lagi. Saya lanjut melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Saya juga pernah membaca sebuah hadits tentang keberkahan di waktu pagi.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِاُ مَّتِى فِى بُكُوْرِهَاوَكَانَ اِذَابَعَثَ سَرِيَّةً بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Allahumma barik li ummati fi bukuriha”, yang artinya “Ya Allah berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” Dan ketika Rasulullah mengirim pasukan, beliau mengirimnya sejak pagi hari. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Kurang lebih itu pengalaman yang ingin saya bagikan. Sekali lagi ini bukan bermaksud untuk mengajari agama atau merasa paling benar, hanya sekadar berbagi pengalaman pribadi selama mencoba memperbaiki kebiasaan di bulan Ramadhan. Sebenarnya masih ada beberapa kebiasaan lain yang saya ubah selama Ramadhan ini, tapi karena yang paling utama adalah hal-hal tadi, jadi itu saja yang saya ceritakan di tulisan ini. Semoga pengalaman ini bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang ingin mencoba menjadi lebih baik. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *