Cerita yang Tidak Pernah Diberi Nama

Bukan karena tidak mampu merasakan, tapi karena terlalu banyak hal di dalam dirinya yang datang bersamaan. Rindu, takut, harap, dan kehilangan—semuanya bercampur tanpa sempat disusun rapi.

Di suatu malam, ketika hujan turun pelan dan kota terdengar lebih jauh dari biasanya, lagu Untitled mengalun dari speaker kecil di sudut kamar. Lagu itu tidak keras, tidak juga meminta perhatian. Ia hanya ada, seperti perasaan yang sedang dialami orang itu.

Sebagai penulis, ia memperhatikan bagaimana orang tersebut duduk lama di tepi ranjang. Tangannya diam, matanya kosong, tapi pikirannya penuh. Lagu itu berjalan tanpa banyak lirik, seolah sengaja memberi ruang bagi siapa pun yang mendengarnya untuk mengisi sendiri ceritanya. Dan orang itu pun melakukannya.

Ia teringat seseorang dari masa lalu bukan seseorang yang benar-benar pergi dengan dramatis, tapi yang perlahan memudar. Tidak ada perpisahan resmi, tidak ada kata “selesai”. Hanya jarak yang makin hari makin terasa wajar, sampai akhirnya disadari bahwa wajar tidak selalu berarti baik-baik saja.

Lagu itu seperti cermin.
Tidak memaksa untuk menangis, tapi juga tidak membiarkan lari.
Setiap nada terasa seperti pertanyaan yang tidak pernah dijawab: seandainya waktu itu aku bicara, apakah ceritanya akan berbeda?

Si penulis melihat bagaimana orang itu menutup mata sejenak. Bukan untuk tidur, melainkan untuk mengingat. Tentang tawa kecil yang dulu terasa sepele. Tentang percakapan singkat yang sekarang terdengar berharga. Tentang perasaan yang dulu dianggap belum waktunya, sampai akhirnya kehilangan waktunya sama sekali.

Judul Untitled terasa kejam sekaligus jujur.
Karena memang ada cerita yang tidak pernah diberi nama.
Bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu pribadi untuk dijelaskan, terlalu rapuh untuk diumumkan.

Di akhir lagu, tidak ada klimaks. Tidak ada jawaban.
Orang itu tetap duduk di sana, sendirian, dengan perasaan yang masih sama belum selesai, belum sembuh, tapi sedikit lebih dimengerti.

Dan sebagai penulis, ia menyadari satu hal:
tidak semua luka perlu ditutup dengan bahagia.
Ada yang cukup ditemani.
Ada yang cukup dituliskan.
Ada yang cukup dibiarkan menjadi untitled agar tetap jujur apa adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *