Ketika Sendiri Lebih Menenangkan

Ada fase dalam hidup di mana kamu akhirnya mengerti bahwa sendiri tidak selalu berarti kehilangan. Kadang justru di situlah kamu menemukan kembali dirimu sendiri. Bukan karena kamu tidak butuh siapa-siapa, tapi karena terlalu sering memberi ruang pada orang yang tidak pernah benar-benar hadir.

Bersama orang lain memang bisa terasa hangat, tapi tidak semua kehangatan itu tulus. Ada kebersamaan yang dipenuhi tuntutan, ekspektasi, dan rasa lelah yang tidak pernah diakui. Kamu tertawa bersama, tapi pulang dengan perasaan kosong. Kamu ada, tapi tidak pernah benar-benar dipahami. Dalam kondisi seperti itu, sendiri bukanlah kesepian melainkan kejujuran.

Ketika kamu sendiri, kamu tidak perlu menyesuaikan diri hanya agar diterima. Kamu tidak perlu menjelaskan luka yang terus diulang, atau memaksa diri bertahan di tempat yang membuatmu perlahan menghilang. Sendiri memberi kamu ruang untuk bernapas, untuk berdamai dengan pikiranmu, dan untuk menyembuhkan hal-hal yang selama ini kamu abaikan demi orang lain.

Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang membuatmu merasa kecil. Lebih baik sunyi daripada harus terus menjelaskan perasaan yang tidak pernah didengar. Karena ketenangan tidak selalu datang dari kehadiran orang lain, tapi dari tidak adanya rasa terpaksa dalam hidupmu.

Sendiri mengajarkanmu bahwa kamu cukup. Bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dibagi untuk bisa terasa nyata. Dan bahwa mencintai diri sendiri adalah fondasi sebelum kamu membiarkan siapa pun masuk lagi.

Suatu hari nanti, jika kamu memilih untuk berjalan bersama seseorang, itu bukan karena takut sendirian. Tapi karena kamu sudah mengenal sepinya, sudah kuat berdiri sendiri, dan tahu bahwa kebersamaan itu harus menenangkan bukan melukai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *