Hujan turun sejak sore, tidak deras, hanya cukup untuk membuat kota terasa lebih sepi dari biasanya. Aku duduk di dekat jendela, secangkir kopi yang sudah dingin di tangan, sementara lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan ke aspal yang basah. Ada lagu yang berputar pelan di latar belakang lagu yang tidak pernah benar-benar kupilih, tapi selalu datang sendiri.
Aku ingat pertama kali kita duduk di tempat ini. Kau tertawa kecil, bilang hujan selalu membuatmu ingin pulang, entah ke mana. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk, karena saat itu aku merasa: selama kau di sini, tempat apa pun terasa seperti pulang.
Kita tidak pernah berjanji akan selamanya. Tidak ada kata besar tentang masa depan. Kita hanya sepakat untuk menjalani hari, satu per satu. Pagi dengan pesan singkat, siang dengan cerita lelah, malam dengan diam yang terasa aman. Semuanya sederhana, tapi cukup atau setidaknya, begitu yang kupikir.
Waktu lalu berjalan seperti biasa, sampai akhirnya tidak lagi ramah. Kesibukan datang, mimpi bertambah, jarak menyelinap tanpa permisi. Kita mulai lebih sering saling menunggu daripada saling menemani. Balasan pesan makin lambat, pertemuan makin jarang, dan diam yang dulu menenangkan, perlahan berubah menjadi beban.
Aku masih ingat malam terakhir kita berbicara dengan jujur. Tidak ada air mata, tidak ada suara tinggi. Hanya dua orang yang sama-sama lelah mempertahankan sesuatu yang perlahan kehilangan bentuknya. Kau bilang, “Mungkin kita memang tidak ke arah yang sama.” Aku mengangguk bukan karena setuju, tapi karena tidak tahu cara membantah tanpa melukai diri sendiri.
Sejak saat itu, aku belajar hidup tanpa kabarmu. Awalnya canggung, seperti kehilangan satu indera. Ada dorongan untuk bercerita, lalu sadar tak ada lagi tempat untuk pulang dengan kata-kata itu. Hari-hari berlalu, dan aku mulai terbiasa. Tidak bahagia, tidak juga sedih hanya berjalan.
Namun kenangan ternyata tidak tahu cara pergi dengan sopan. Ia datang saat hujan, saat lagu tertentu terputar, saat senja terlalu indah untuk dinikmati sendirian. Ia tidak berisik, tidak memaksa. Ia hanya ada, mengisi ruang kosong di dada, mengingatkanku bahwa aku pernah mencintai dengan sepenuh itu.
Aku tidak lagi berharap kau kembali. Harapan itu sudah kulepaskan, pelan-pelan, dengan hati-hati. Yang tersisa hanyalah rasa—bukan rindu yang menyiksa, melainkan gema. Gema dari tawa, dari obrolan kecil, dari kebersamaan yang pernah terasa utuh.
Malam ini aku berdiri di depan jendela, hujan masih turun. Lagu itu selesai diputar, tapi perasaanku belum. Aku tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena akhirnya mengerti: tidak semua yang pergi harus dilupakan. Ada yang cukup dikenang, lalu dibiarkan tinggal sebagai bagian dari diriku.
Karena beberapa cerita tidak butuh akhir yang bahagia.
Cukup pernah nyata.
Cukup pernah berarti.
Dan biarlah sisanya…
bergema sampai selamanya.
Ini keren banget tulisannya bang. Tentang rasa sendu yang ditahan dan tidak ingin diungkapkan namun pada akhirnya dituliskan.
Waktu berlalu bagai angin, meninggalkan jejak di tanah berdebu…