End Gamenya Orang IT

Rabu kemarin, seperti biasa saya dan Uncle pergi untuk WFA (Work From Anywhere). Tapi kali ini agak berbeda, karena kami tidak WFA di daerah Bekasi, melainkan di Karawang. Kok bisa sampai ke sana?

Ceritanya begini, malam sebelumnya Uncle mengirim pesan dan bertanya, “Besok mau ke kabin tidak?” Saya kaget dan membalas, “Hah, serius? Jauh amat, Om.” Uncle kemudian menjelaskan kalau kami diajak oleh bos dan akan berangkat menggunakan mobilnya. Akhirnya saya setuju, dan kami bersepakat untuk bertemu di Gerbang Tol Barat esok paginya.

Keesokan harinya, saya tiba duluan di dekat gerbang tol. Tidak lama kemudian, bos datang membawa mobilnya sendiri. Perjalanan ke Karawang memakan waktu sekitar satu jam. Ini pengalaman baru juga buat saya karena baru pertama kali naik mobil listrik. Kebetulan bos menggunakan mobil BYD Atto 3. Model SUV-nya keren dan desain dashboard-nya terasa sangat futuristik. Berbeda sekali sensasinya dengan mobil bensin biasa.

Di perjalanan kami banyak mengobrol, salah satunya membahas tentang perkembangan AI dan bagaimana masa depannya. Setelah keluar dari jalan utama, kami mulai memasuki daerah pedesaan. Pemandangan kiri kanannya dipenuhi sawah, suasananya mirip seperti di Subang. Di sana banyak rumah berukuran besar, padahal akses jalannya tergolong sempit sepertinya untuk berpapasan dua mobil saja tidak muat. Ada banyak cerita menarik selama di perjalanan, tapi kalau ditulis semua sepertinya tidak akan cukup, hehe. Jadi, kita langsung saja ke cerita di kabin.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi kabin tersebut. Menurut saya, cuaca di Karawang terasa sedikit lebih panas. Agak berbeda dengan Subang yang meskipun sama-sama banyak sawah, udaranya terasa lebih adem dan banyak angin karena dekat dengan pantai. Setibanya di kabin, bos langsung mengajak saya berkeliling melihat area perkebunannya. Ternyata sangat luas; ada hamparan sawah, tanaman cabai, dan tomat yang tinggal petik.

Di sana juga terdapat beberapa bangunan: ada 3 rumah kabin utama, rumah kabin kembar, dan rumah kabin kaca. Keren banget! Melihat pemandangan ini rasanya persis seperti jokes orang-orang IT: “Endgame-nya orang IT adalah kembali ke alam dan berkebun,” hehe.

Kebetulan saat saya datang, padinya sedang dipanen. Banyak orang yang sedang bekerja merontokkan padi dari tangkainya. Momennya pas sekali.

Beberapa foto pemandangan bagus yang sempat saya abadikan di sana:

Oh iya yang di bagian kabin kebar kan ada kaya tempat kecil gitu ini fotonya, ini kaya buat pidato keren sih kwkwkw.

Setelah puas melihat-lihat, kami pun lanjut WFA. Untuk urusan pekerjaannya, sepertinya tidak perlu saya ceritakan lebih detail di sini, ya.

Singkat cerita, setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, sore harinya kami kembali berkeliling. Kali ini kami menyempatkan diri untuk melihat area peternakan dan kebun lainnya.

Di area tersebut terdapat hamparan tanaman jagung. Jujur, saat itu saya sempat agak bingung. Kalau melihat di film-film, tanaman jagung biasanya tumbuh tinggi-tinggi hingga menjulang ke atas. Namun ketika saya perhatikan dari dekat, tanaman jagung di kebun ini ukurannya tergolong pendek. Saya kurang tahu pasti, apakah memang jenis tanamannya yang pendek, atau mungkin karena memang baru saja ditanam.

Disitu juga ada burung hantu, kata boss itu buat nangkep tikus di sawah nya. jadi di buat sarangnya sendiri tinggi kaya jadi peliharaan di sana buat basmi tikus. Terus juga ada sapi sama kambing nya. udah kaya saya lagi main game nya harvest moon persis tapi ini versi real nya.

Benar-benar endgame-nya orang IT! Selesai berkeliling, saya pulang dengan membawa sayuran yang dipanen langsung dari kebun bos. Beliau memang menyuruh saya membawa hasil kebun tersebut. Sampai di rumah, orang-orang pada heran dan bertanya, “Itu dari mana, Pat? Pergi kerja kok pulangnya malah bawa sayuran?” wkwkwk.

Ya, jadi begitulah pengalamannya. Lumayan seru, sih. Bos juga banyak membagikan cerita dan pengalaman, saking banyaknya sampai saya tidak bisa mengingat semuanya.

Tapi memang keren rasanya. Buat kita para orang IT yang sehari-hari kerjanya hanya menatap layar laptop di atas meja, sesekali datang ke tempat yang hijau-hijau seperti ini sukses bikin hidup terasa lebih tenang. Kalau ada tawaran lagi untuk WFA ke sana, sepertinya saya tidak akan ragu untuk langsung bilang, “Gas aja!” wkwkwk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *