Mungkin bagi kalian yang pernah bertemu saya secara langsung, atau sekadar pernah nongkrong bareng, sempat ada momen di mana kalian memperhatikan satu hal kecil yang selalu ada di tangan kiri saya, dua buah cincin. Satu melingkar di jari manis, satu lagi di jari telunjuk. Selalu begitu. Dan kalau kalian cukup jeli, cincin di jari manis itu sedikit lebih kecil dibanding yang di telunjuk.
Bukan kebetulan. Bukan sekadar aksesori. Ada alasan di balik keduanya, dan hari ini saya mau cerita.
Cincin yang melingkar di jari manis saya itu bukan milik saya. Maksudnya, memang saya yang membelinya, memang saya yang memakainya setiap hari, tapi sejak awal saya selalu tahu bahwa cincin itu bukan untuk saya. Cincin itu saya pegang sementara, seperti menitipkan sesuatu yang belum tahu harus diberikan ke siapa.
Cincin itu untuk seseorang. Seseorang yang belum hadir, yang bahkan namanya pun saya belum tahu. Tapi saya percaya, suatu hari nanti ada satu orang yang pas, yang ketika saya melihatnya, saya langsung tahu bahwa cincin itu memang selalu miliknya. Dan di hari itu, cincin ini akan berpindah tangan dari saya ke dia.
Ada sesuatu yang terasa damai dari cara berpikir seperti itu. Saya tidak sedang menunggu dengan gelisah. Saya hanya sedang menjaga.
Kalau cincin di jari manis itu untuk orang lain, maka cincin di jari telunjuk itu sepenuhnya milik saya. Itu pengingat untuk diri sendiri bahwa sebelum saya bisa mencintai orang lain, saya harus mencintai diri saya sendiri dulu. Bahwa saya cukup. Bahwa saya tidak perlu terburu-buru.
Jari telunjuk itu sengaja karena telunjuk selalu menunjuk ke depan. Selalu mengarah. Dan itulah yang ingin saya ingat setiap kali melihat cincin itu: tetap bergerak, tetap menjalani hidup, sambil membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Nah, ini bagian yang paling sering bikin orang penasaran setelah saya cerita. Kalau suatu hari kalian bertemu saya dan tangan kiri saya hanya ada satu cincin yang di telunjuk pindah ke jari manis, berarti saya sudah menemukannya. Seseorang yang selama ini saya titipkan cincinnya di jari manis saya sudah hadir, dan cincin itu sudah pulang ke tangan yang seharusnya.
Satu cincin yang tersisa bukan tanda kehilangan. Justru sebaliknya itu tanda bahwa sesuatu yang dinantikan akhirnya tiba.
Jadi kalau kalian penasaran soal status saya, tidak perlu tanya langsung. Cukup lihat tangan kiri saya dua cincin berarti saya masih menunggu, satu cincin berarti ceritanya sudah berlanjut ke babak baru. Haha.