Ada satu hal yang rasanya cukup ironis dan sering mengganggu pikiran saya belakangan ini. Saya menyadari kalau saya punya ketertarikan terhadap seseorang yang belum pernah saya temui secara langsung. Secara fisik, saya tahu wujud dia seperti apa. Suaranya pun saya sudah pernah dengar. Tapi, kita belum pernah sama sekali ketemu, apalagi duduk bareng untuk sekadar ngobrol face-to-face.
Yang bikin situasinya makin aneh dan di luar logika adalah kenyataan bahwa komunikasi kita itu sebenarnya jarang banget. Kita bukan tipe yang chatting setiap hari atau saling update soal keseharian. Obrolan kita cuma terjadi sesekali saja. Tapi entah kenapa, justru dari interaksi yang serba minim itu, perasaan ini malah bisa nyangkut dan bertahan di pikiran saya.
Kadang saya bertanya-tanya, bagaimana bisa rasa suka ini muncul dari ruang yang begitu kosong? Logikanya, karena kita jarang ngobrol dan belum pernah bertatap muka, banyak banget sisi dari dirinya yang sama sekali tidak saya ketahui. Namun, di situlah letak masalah utamanya. Tanpa sadar, otak saya otomatis bekerja mengisi ruang-ruang kosong itu dengan asumsi dan ekspektasi saya sendiri.
Hanya bermodalkan serpihan-serpihan obrolan yang jarang itu, saya seakan merangkai karakter ideal tentang dia di dalam kepala. Saya membangun sosoknya berdasarkan apa yang ingin saya pikirkan tentangnya. Ini yang akhirnya membuat sebuah pertanyaan besar terus berputar-putar di benak saya: apakah ini benar-benar rasa suka yang wajar, atau sebenarnya cuma obsesi semata?
Batas antara keduanya terasa sangat kabur di situasi seperti ini. Bagaimana caranya saya bisa yakin kalau ini adalah perasaan suka yang tulus, sementara untuk ngobrol saja kita jarang? Jangan-jangan, saya tidak benar-benar jatuh cinta sama dia sebagai manusia seutuhnya dengan segala kekurangannya.
Saya mulai takut kalau ternyata saya cuma terobsesi sama “ide” tentang dia. Terobsesi sama bayangan sosoknya yang sudah terlanjur saya ciptakan sendiri di dalam pikiran saya, terutama di saat-saat kita sedang tidak saling berkomunikasi.
Situasi ini lumayan bikin saya terjebak dalam kebingungan. Di satu sisi, ada rasa penasaran yang besar untuk membuktikan realitanya ingin tahu aslinya seperti apa kalau kita benar-benar berinteraksi secara langsung. Tapi di sisi lain, ada keraguan yang menahan. Apakah sosok aslinya nanti bakal benar-benar sesuai dengan ekspektasi yang sudah saya bangun diam-diam selama ini?
Selama kita belum bertemu dan interaksi ini masih sebatas chat yang jarang-jarang, teka-teki itu sepertinya bakal terus ada. Pada akhirnya, saya cuma bisa berdebat dengan pikiran saya sendiri, mencoba mencari tahu apakah perasaan ini memang nyata, atau saya cuma sedang asyik terjebak dalam ilusi yang saya buat sendiri.