Tulisan Yang Penuh Dengan Kebohongan

Pada hari Sabtu kemarin, tepatnya malam Minggu pada tanggal 2 Mei, aku pergi keluar dengan motorku. Tidak ada tujuan, tidak tahu arah mau ke mana, dan tidak ada yang tahu aku pergi dengan siapa. Aku pergi sendiri dengan motor yang biasa kupakai setiap hari. Pada saat itu, aku tidak punya alasan yang jelas untuk pergi motoran dengan tujuan ke mana. Aku hanya mengendarai motor itu mengikuti jalan. Aku hanya termenung di atas sadel.

Membawa motor ini, aku pun sambil merenung. Aku hanya mengikuti jalanan yang ramai oleh orang-orang, ditemani sebuah lagu yang terus mengulang setiap saat di telingaku. Tidak terasa aku sudah ada di kota yang baru pertama kali kutuju, yaitu Karawang. Aku sama sekali tidak mengenal jalannya, aku hanya menyadari posisi ini dari papan jalan yang tertulis ‘Karawang’.

Kalau tidak salah, pada saat itu masih jam 9 malam. Jadi aku meneruskan perjalananku untuk berkeliling sebentar sebelum pulang. Di sepanjang jalan aspal yang asing ini, aku hanya melihat orang-orang yang berjalan berdampingan bersama pasangannya, serta anak-anak yang sedang tertawa bermain dengan temannya.

Melihat pemandangan itu, aku memperlambat laju motorku. Rasanya sedikit aneh, berada di tengah keramaian kota milik orang lain, menjadi satu-satunya penonton yang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak bicara. Mereka semua tampak memiliki tujuan, memiliki tawa untuk dibagikan, dan memiliki tangan untuk digenggam. Sementara aku, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku cari di sini.

Aku sempat menepi sejenak di bahu jalan, membiarkan mesin motor tetap menyala. Angin malam mulai terasa lebih dingin menembus jaketku. Sambil memandangi lampu-lampu jalan dan kendaraan yang berlalu-lalang, lagu yang sama masih terus berputar, seolah menjadi sountrack untuk rasa sepi yang tiba-tiba menyelinap. Bukan kesedihan yang mendalam atau membuat air mata turun, melainkan hanya perasaan kosong yang tenang. Seperti daun yang gugur dan dibiarkan terbawa angin malam—tidak melawan, hanya mengalir saja. Di kota yang asing ini, untuk sejenak, aku menikmati rasanya tidak dikenali oleh siapa pun dan tenggelam dalam duniaku sendiri.

Hingga akhirnya, lamunanku buyar. Secara tidak sadar waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Aku merasa itu sudah terlalu larut dan posisiku juga sudah terlalu jauh dari rumah. Jadi, aku memutuskan untuk memutar arah dan pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *