Saya baru tahu bahwa pertemanan bertahun-tahun bisa retak hanya karena satu orang tidak dimasukkan ke daftar Close Friend.
Bukan karena ada pengkhianatan besar. Bukan karena ada masalah serius yang sudah lama menumpuk. Tapi karena lingkarannya tidak hijau.
Saya geleng-geleng kepala waktu pertama kali mendengar ini. Dan ternyata bukan kejadian langka.
Ada yang tiba-tiba mendingin sikapnya ke temannya sendiri setelah sadar dia tidak masuk CF. Ada yang bikin second account khusus untuk posting sindiran terselubung tentang betapa sakitnya “tidak dianggap dekat”. Ada yang mengungkit ini di grup chat, mempermasalahkan kenapa si A masuk tapi dia tidak, seolah ada rapat seleksi yang hasilnya tidak adil.
Dan yang paling menarik, kalau ketemu di dunia nyata, mereka masih sapa-sapaan seperti biasa.
Jadi sebetulnya masalahnya di mana?
Saya coba memahami logika di balik ini. Close Friend di Instagram adalah fitur untuk membatasi siapa yang bisa melihat konten tertentu. Itu saja. Tidak ada perjanjian tertulis bahwa semua orang yang kalian kenal harus masuk ke dalamnya. Tidak ada aturan bahwa jumlah orang di daftar CF kalian harus sebanding dengan tingkat keakraban yang dirasakan masing-masing pihak.
Tapi entah bagaimana, fitur itu berubah jadi alat ukur. Kalau kalian masuk CF seseorang, kalian dianggap benar-benar dekat. Kalau tidak masuk, kalian cuma kenalan. Dan kalau teman lama kalian masuk tapi kalian tidak, itu sudah setara dengan penghinaan.
Standar pertemanan zaman sekarang ternyata bisa diringkas dalam satu pertanyaan: apakah lingkarannya hijau?
Yang paling menggelikan buat saya adalah reaksi setelahnya. Orang yang merasa tidak diakui sebagai teman dekat karena tidak masuk CF, bukannya ngobrol langsung, malah memilih jalur yang jauh lebih dramatis. Bikin finsta. Posting foto dengan caption ambigu. Like semua postingan orang lain kecuali si pelaku. Menghapus foto berdua dari feed.
Semua itu karena sebuah daftar di dalam aplikasi yang bahkan bisa berubah kapan saja tanpa notifikasi.
Saya tidak sedang bilang bahwa perasaan tidak dianggap itu tidak valid. Perasaan selalu valid. Tapi cara mengekspresikannya yang perlu kita pertanyakan. Karena ada perbedaan besar antara merasa tidak dianggap dekat dengan teman, dan merasa tidak dianggap dekat karena tidak masuk fitur Close Friend Instagram.
Yang pertama adalah masalah relasi yang nyata dan layak dibicarakan.
Yang kedua adalah masalah dengan ekspektasi yang dibangun di atas fondasi algoritma media sosial.
Kalian bisa jadi teman paling dekat seseorang tanpa pernah masuk CF mereka. Kalian bisa masuk CF seseorang tapi sebetulnya tidak terlalu dekat di dunia nyata. Kedekatan tidak tinggal di dalam daftar aplikasi. Ia ada di dalam percakapan jam dua pagi yang tidak ada yang tahu. Di dalam gestur kecil yang tidak pernah diposting ke mana-mana. Di dalam hal-hal yang tidak butuh lingkaran hijau untuk dibuktikan.
Tapi mungkin itulah masalahnya. Generasi yang tumbuh dengan validasi digital jadi kesulitan mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa di-screenshot, dan tidak bisa ditunjukkan ke orang lain sebagai bukti.
Kalau pertemanan kalian retak hanya karena daftar CF, mungkin yang perlu dievaluasi bukan siapa yang masuk atau tidak masuk ke daftar itu.
Tapi seberapa dalam pertemanan itu sebetulnya berakar, sebelum satu fitur aplikasi bisa mengguncangnya.