Setelah server modded berhasil jalan dan teman-teman sudah bisa join tanpa drama, muncul pertanyaan berikutnya yang ternyata lebih rumit dari yang kelihatannya: server ini harus dikonfigurasi seperti apa supaya nyaman dimainkan tapi tidak boros resource?
Ini bukan soal cari spek paling tinggi. Ini soal mencari titik tengah yang pas.
Masalah pertama yang langsung terasa adalah RAM. Server Minecraft modded itu rakus. Better MC dengan ratusan mod di dalamnya bisa makan 4 sampai 6 GB RAM hanya untuk startup, belum termasuk chunk yang dimuat saat player mulai jalan-jalan. Kalau alokasi RAM terlalu kecil, server bakal lag dan sering crash. Tapi kalau terlalu besar dan mesin tidak punya fisik sebanyak itu, malah masuk ke swap dan performanya justru lebih parah.
Soal swap ini agak kontroversial di komunitas server Minecraft. Banyak yang bilang jangan pakai swap sama sekali karena disk jauh lebih lambat dari RAM dan akan membuat TPS drop drastis. Tapi kalau RAM fisiknya terbatas, swap tetap berguna sebagai jaring pengaman supaya server tidak langsung crash waktu lonjakan memori tiba-tiba. Akhirnya swap tetap diaktifkan tapi dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dan alokasi RAM untuk server diset sedikit di bawah kapasitas fisik supaya masih ada ruang untuk sistem.
Untuk view-distance dan simulation-distance, ini dua setting yang paling berpengaruh ke performa tapi sering diabaikan. View-distance mengatur seberapa jauh chunk yang dikirim ke client, simulation-distance mengatur seberapa jauh chunk yang aktif diproses server. Default keduanya lumayan tinggi dan untuk server modded dengan banyak player itu cukup berat.
Setelah beberapa kali eksperimen, view-distance diturunkan ke angka yang masih terasa cukup luas tapi tidak membuat server megap-megap, dan simulation-distance dibuat lebih kecil lagi. Hasilnya TPS jadi lebih stabil, terutama waktu beberapa orang main bersamaan dan masing-masing jalan ke arah berbeda.
Max player juga dipertimbangkan. Bukan karena ingin membatasi, tapi karena setiap player aktif yang online itu ada biayanya dari sisi CPU dan RAM. Dengan mengetahui pola main teman-teman, yang biasanya online tidak lebih dari empat atau lima orang sekaligus, bisa diperkirakan resource yang dibutuhkan dengan lebih realistis.
Satu hal yang cukup membantu adalah pregen chunk. Sebelum server dibuka untuk dimainkan, chunk di area spawn dan sekitarnya di-generate lebih dulu. Tujuannya supaya waktu player pertama kali jalan-jalan, server tidak harus generate chunk baru secara realtime yang bikin TPS drop tiba-tiba. Proses pregen-nya memang butuh waktu, tapi hasilnya terasa saat server sudah dipakai.
Soal backup, ini yang sering dilupakan sampai benar-benar butuh. Setup backup otomatis yang jalan setiap beberapa jam, menyimpan world ke direktori terpisah dengan nama berdasarkan timestamp. Tidak perlu sistem yang canggih, cukup script sederhana yang dijalankan lewat cron. Yang penting kalau terjadi sesuatu, ada titik yang bisa dikembalikan.
Lalu soal server 24 jam. Ada opsi untuk membuat server otomatis tidur ketika tidak ada yang online, lalu bangun lagi waktu ada yang mau join. Secara teknis bisa, dan memang lebih hemat resource. Tapi setelah dipikir-pikir, ada trade-off yang tidak worth it untuk konteks ini.
Waktu tunggu server boot ditambah load mod ratusan buah itu tidak sebentar. Bisa dua sampai tiga menit. Dan di situasi ketika teman spontan mau main malam-malam, menunggu server nyala dulu itu cukup mengganggu flow. Lebih nyaman kalau server selalu siap, tinggal join langsung bisa main.
Biayanya memang ada, tapi untuk skala server komunitas kecil yang tidak pakai mesin dedicated high-end, itu masih dalam batas yang masuk akal dibanding pengalaman yang didapat.
Intinya tidak ada konfigurasi yang universal. Semua bergantung pada pola main, jumlah player, dan resource yang tersedia. Yang paling penting adalah mengerti apa yang sedang dikorbankan dan apa yang didapat dari setiap keputusan konfigurasi yang diambil.