Dulu saya pikir yang penting punya mimpi. Katanya kalau kita punya mimpi yang kuat, semesta akan bantu, jalan akan terbuka, tinggal usaha dan berdoa. Saya percaya itu sampai umur tertentu. Sampai akhirnya saya sadar satu hal yang jarang dibilang orang, bahwa mimpi juga butuh biaya.
Saya punya banyak mimpi. Mau nikah, mau bantu keluarga, mau memberangkatkan orang tua umroh, mau punya rumah sendiri. Semuanya terdengar indah kalau cuma disebutkan. Tapi begitu saya coba pikirkan pelan-pelan, satu per satu, ternyata semuanya punya angka di belakangnya. Dan angkanya tidak kecil.
Mau nikah, saya baru sadar bukan cuma soal suka sama suka. Ada biaya acara, ada tempat tinggal setelahnya, ada tanggungan hidup dua orang yang jadi satu. Cinta memang tidak beli pakai uang, tapi hidup setelah menikah jelas butuh uang.
Mau bantu keluarga, saya harus punya lebih dulu. Susah bantu orang lain kalau diri sendiri masih pas-pasan. Niat baik saja tidak cukup kalau saya tidak punya apa-apa untuk diberikan.
Mau memberangkatkan orang tua umroh, itu salah satu mimpi yang paling saya inginkan. Tapi umroh butuh biaya yang tidak sedikit. Dan setiap kali saya memikirkannya, saya sadar waktu tidak menunggu. Orang tua saya makin tua, dan saya masih di sini, menghitung-hitung.
Mau punya rumah, jangan ditanya. Harga rumah naik lebih cepat dari kemampuan saya menabung. Kadang rasanya seperti mengejar sesuatu yang terus menjauh.
Awalnya semua ini bikin saya sedih. Rasanya seperti mimpi-mimpi itu diberi tembok tinggi bernama uang. Tapi lama-lama saya berpikir ulang. Bukan berarti mimpi itu tidak mungkin. Cuma memang tidak bisa dicapai dengan berharap saja. Harus ada rencana. Harus ada usaha yang nyata. Harus ada uang yang benar-benar dikumpulkan, bukan cuma diangan-angankan.
Jadi sekarang saya coba lebih realistis. Mimpi tetap saya simpan, tapi saya berhenti menganggapnya akan datang sendiri. Saya mulai memecahnya jadi hal-hal kecil. Berapa yang harus saya sisihkan tiap bulan. Mana yang harus didahulukan. Mana yang bisa menyusul. Tidak seindah kata-kata motivasi, tapi jauh lebih jujur.
Ternyata dewasa itu bukan cuma soal punya mimpi besar. Tapi soal berani menghadapi kenyataan bahwa mimpi besar itu ada harganya, lalu tetap berusaha membayarnya sedikit demi sedikit. Dan buat saya, itu justru bentuk mimpi yang paling nyata.