Saya cuma memberikan nomor telepon. Kapan nomor itu berubah menjadi semacam pintu yang membuat orang lain merasa boleh masuk kapan saja? Pertanyaan itu belakangan sering muncul di kepala saya, biasanya di saat-saat kecil. Pesan yang masuk saat saya sedang makan, telepon di malam hari, chat yang datang saat saya cuma ingin sendiri sebentar. Saya tidak marah, saya cuma penasaran, sejak kapan semua ini terasa jadi hal yang wajar.
Dulu, tidak bisa dihubungi adalah hal yang biasa. Orang pergi, ya memang pergi. Kalau seseorang tidak menjawab, tidak ada yang langsung berpikir yang aneh-aneh. Tidak ada ekspektasi bahwa pesan harus dibalas saat itu juga. Tidak ada kabar belum tentu berarti ada masalah. Kadang orang cuma sedang sibuk, sedang istirahat, atau sedang menikmati hidupnya tanpa perlu melapor ke siapa pun.
Sekarang rasanya berbeda. Punya akses ke seseorang seperti punya hak atas waktunya. Ada WhatsApp, Telegram, DM di berbagai aplikasi, sampai telepon. Satu orang bisa punya banyak pintu untuk dihubungi. Dan begitu sebuah pesan terkirim, langsung tumbuh ekspektasi di baliknya. Kenapa belum dibalas? Padahal pesannya baru masuk beberapa menit yang lalu.
Perlahan, ketersediaan mulai dianggap sebagai bentuk kepedulian. Balas cepat dianggap peduli. Tidak membalas dianggap menghindar. Terlihat online dianggap tersedia. Padahal online tidak sama dengan available. Saya bisa saja membuka aplikasi cuma untuk melihat sesuatu sebentar, lalu ingin kembali ke urusan saya, tanpa berarti saya sedang siap meladeni semua percakapan.
Di sinilah batasnya mulai kabur. Batas antara bisa menghubungi dan berhak mendapatkan respons. Saya memang memberikan nomor, username, atau akses lainnya. Tapi memberikan akses komunikasi tidak berarti saya memberikan akses penuh atas waktu saya. Dan pertanyaan yang sebenarnya menarik bagi saya adalah, kapan akses berubah menjadi entitlement?
Saya pikir teknologi sebenarnya bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah ekspektasi yang ikut tumbuh bersamanya. Teknologi membuat komunikasi jadi jauh lebih mudah, tapi juga membuat kita lupa bahwa manusia tetap punya kehidupan di luar layar. Alatnya netral, yang berubah adalah cara kita menuntut satu sama lain untuk selalu ada.
Buat saya ada perbedaan antara peduli dan selalu tersedia. Saya tetap bisa hadir untuk orang-orang yang saya sayangi. Saya tetap bisa membalas hal-hal yang memang penting. Tapi saya tidak harus menjadi seseorang yang selalu dapat diakses kapan pun. Menyayangi seseorang tidak berarti saya wajib siaga dua puluh empat jam untuk siapa saja.
Jadi belakangan saya pelan-pelan mengambil kembali hak atas waktu saya sendiri. Tidak semua pesan harus dijawab saat itu juga. Tidak semua panggilan harus diangkat. Tidak semua orang harus tahu saya sedang apa. Ini bukan soal menjadi cuek, tapi soal menyadari satu hal sederhana, bahwa waktu saya bukan ruang publik. Memberi seseorang akses untuk menghubungi saya tidak sama dengan memberi mereka hak atas hidup saya.