Makanan sudah datang. Saya sudah lapar dari tadi. Tapi meja sebelah masih sibuk menggeser piring ke kiri, lalu ke kanan, lalu minta tolong temannya minggir karena bayangannya masuk frame.
Saya pegang sendok, mulai makan.
Mereka masih foto.
Ada satu fenomena yang konsisten saya temui di food court, warung, bahkan di restoran pinggir jalan yang kursinya plastik dan mejanya ada tulisan “dilarang bawa makanan dari luar”. Sekelompok orang yang datang untuk makan, tapi entah kenapa malah sibuk dengan hal lain jauh lebih dulu sebelum makanan itu benar-benar masuk ke mulut mereka.
Prosesnya selalu sama. Makanan datang, tangan langsung terangkat ke udara, bukan untuk berdoa, tapi untuk mencari sudut kamera terbaik. Sendok dan garpu yang tadi sudah dipegang langsung dilepas lagi, ditata ulang di samping piring dengan jarak yang presisi. Gelas dipindah sedikit ke kiri. Tisu lipat dijadikan properti tambahan. Ada yang sampai berdiri dari kursi demi mendapat angle dari atas.
Sementara itu, makanannya mendingin.
Yang paling saya kagumi dari ritual ini adalah tingkat keseriusannya. Ini bukan foto cepat lalu makan. Ini produksi. Ada briefing soal pencahayaan. Ada diskusi soal filter mana yang paling cocok. Ada sesi review foto bersama sebelum memutuskan apakah sudah layak naik ke feed atau harus diulang lagi karena ada bayangan yang mengganggu di sudut kanan bawah.
Bayangan. Di foto makanan. Di warung makan siang.
Saya makan nasi saya dalam diam sambil sesekali melirik ke proses editorial yang sedang berlangsung di meja sebelah. Di dalam kepala saya cuma ada satu pertanyaan sederhana. Apakah mereka tidak lapar?
Karena saya lapar. Dan saya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa menahan diri dari makanan yang sudah di depan mata hanya demi satu foto yang akan ditonton orang selama tiga detik sebelum di-scroll lanjut.
Tapi mungkin di situlah perbedaan mendasarnya. Buat saya, makan siang itu soal mengisi perut. Buat mereka, makan siang itu konten. Makanan bukan pengalaman yang dinikmati, tapi objek yang didokumentasikan. Rasanya nomor dua. Yang penting visualnya paripurna dan pencahayaannya natural.
Kalau makanannya enak tapi fotonya jelek, apakah makan siangnya tetap berhasil? Saya tidak tahu. Mungkin tidak.
Hal yang paling ironis dari semua ini adalah mereka datang ke tempat makan untuk makan, tapi justru orang yang paling menikmati makanannya adalah saya yang duduk di sini tanpa pernah membuka kamera sekalipun. Nasi saya masih hangat. Kuahnya belum terpisah. Saya lahap tanpa drama.
Sementara di meja sebelah, foto baru selesai diedit dan baru saja diupload. Makanannya sudah dingin sejak sepuluh menit lalu.
Tapi setidaknya feednya konsisten.