Saya pernah lihat teman saya pesan kopi seharga 65 ribu rupiah, tidak diminum sampai habis, tapi foto-nya sudah naik ke Instagram Stories dalam tiga menit.
Itu bukan tentang kopinya. Itu tentang bukti bahwa dia sudah ke sana.
Ada fenomena menarik yang belakangan saya amati di sekitar saya. Orang-orang rela antre satu jam di depan kafe yang viral, bukan karena mereka pecinta kopi sejati, tapi karena lokasinya jadi background foto yang bagus. Rela beli sepatu edisi terbatas yang harganya setara cicilan motor, bukan karena nyaman dipakai, tapi karena kalau tidak punya, rasanya seperti ketinggalan sesuatu yang penting.
Yang lucu, mereka sendiri seringkali tidak bisa menjelaskan apa yang sebetulnya mereka kejar.
FOMO, atau Fear of Missing Out, sudah lama kita kenal sebagai konsep psikologi. Tapi generasi sekarang berhasil mengubahnya dari sekadar rasa takut menjadi gaya hidup yang terstruktur rapi. Ada kalender tidak tertulis yang wajib diikuti. Bulan ini kafe mana yang harus dikunjungi. Minggu ini sepatu apa yang harus dimiliki. Event apa yang harus dihadiri supaya bisa dibilang eksis.
Dan kalau kalian tidak mengikutinya? Kalian akan merasa seperti orang yang tidak mendapat undangan ke pesta yang semua orang hadir di sana.
Yang paling menarik buat saya adalah cara orang membenarkan pengeluaran ini ke diri mereka sendiri.
“Ini investasi pengalaman.”
“Hidup cuma sekali, nikmatin aja.”
“Gue beli ini karena gue suka, bukan karena tren.”
Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat itu. Tapi kalau kalimat itu dipakai untuk membenarkan setiap pembelian yang muncul akibat tekanan sosial, maka ia bukan lagi alasan. Ia jadi mekanisme pertahanan.
Coba kalian hitung sendiri berapa yang sudah keluar dalam tiga bulan terakhir hanya untuk hal-hal yang dikategorikan sebagai “biar tidak ketinggalan”. Kopi viral yang antrenya panjang. Tiket konser yang sebetulnya kalian tidak terlalu nge-fans. Outfit baru yang dibeli khusus untuk satu event lalu tidak pernah dipakai lagi. Makan malam di restoran mahal yang dipilih bukan karena rasanya, tapi karena tempatnya estetik untuk konten.
Angkanya biasanya cukup untuk membuat kalian diam sebentar.
Saya tidak sedang menghakimi. Saya sedang menunjukkan sesuatu yang mungkin kalian sendiri sudah sadar tapi belum sempat diakui.
Bahwa sebagian besar dari pengeluaran itu bukan untuk kebahagiaan kalian. Itu untuk konsumsi orang lain. Untuk validasi dari followers yang sebagian besar tidak benar-benar peduli dengan kehidupan kalian. Untuk rasa aman palsu bahwa kalian masuk ke dalam kelompok yang “relevan”.
Dan rasa aman palsu itu ternyata harganya tidak murah.
Momen paling jujur dalam siklus ini biasanya datang di akhir bulan. Waktu kalian buka aplikasi bank, lihat saldo, dan otak kalian mulai memutar ulang semua transaksi tiga puluh hari terakhir seperti film pendek yang tidak ingin kalian tonton.
Di situlah FOMO menagih bayarannya.
Bukan di momen seru saat foto sudah naik dan dapat puluhan likes. Tapi di momen sepi waktu layar HP mati dan kalian duduk sendirian dengan angka di rekening yang tidak sesuai ekspektasi.
Pertanyaan yang mungkin perlu kalian tanyakan ke diri sendiri bukan “apakah saya bisa beli ini?”
Tapi “apakah saya benar-benar ingin ini, atau saya hanya ingin terlihat seperti orang yang punya ini?”
Bedanya tipis. Tapi bedanya mahal.