The Visitor

Ada satu jenis perasaan yang susah sekali dijelaskan dengan kata biasa. Bukan patah hati. Bukan kehilangan. Tapi lebih ke… perasaan bahwa kamu memang tidak pernah benar-benar tinggal. Kamu datang, kamu hadir, kamu bahkan mungkin dicintai. Tapi entah kenapa, kamu tahu sejak awal bahwa kamu hanya tamu.

Lagu “The Visitor” dari Sienna Spiro berbicara tepat di titik itu.

Sienna menulis lagu ini sebagai refleksi tentang perasaan tidak pernah punya tempat yang pasti. Bukan karena tidak ada yang mau menerima. Tapi karena ada bagian dalam diri yang selalu sadar bahwa kehadirannya bersifat sementara. Dicintai, ya. Diterima, mungkin. Tapi untuk menetap? Sepertinya bukan bagian dari ceritanya.

Dan saya rasa banyak dari kita pernah merasakan itu.

Pernah nggak kalian masuk ke sebuah ruangan, bergabung dengan sekelompok orang, dan merasa… hadir secara fisik tapi tidak pernah benar-benar ada? Tertawa tapi tidak larut. Mendengarkan tapi pikiran melayang ke tempat lain. Seolah ada kaca tipis antara kamu dan semua orang di sana, dan kamu satu-satunya yang bisa melihat kaca itu.

Itulah yang dimaksud jadi visitor.

Bukan karena kamu tidak mau hadir sepenuhnya. Tapi karena ada sesuatu di dalam dirimu yang sudah terlanjur terbiasa tidak menetap. Sudah terlalu sering berpindah, sudah terlalu sering melepas, sampai akhirnya jadi default-mu untuk tidak terlalu dalam masuk ke mana-mana.

Yang menarik dari lagu ini bukan kesedihannya. Yang menarik adalah bagaimana Sienna menyampaikan itu semua dengan tenang. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada amarah atas kenyataan itu. Hanya… penerimaan. Semacam kedamaian kecil yang lahir dari kejujuran. Bahwa ya, ini siapa saya. Saya datang, saya pergi. Dan mungkin itu memang peran saya di tempat-tempat tertentu, di hidup orang-orang tertentu.

Berdamai dengan itu bukan berarti menyerah.

Berdamai dengan itu berarti kamu akhirnya berhenti memaksakan diri untuk jadi sesuatu yang bukan kamu. Berhenti pura-pura bahwa kamu betah, padahal tidak. Berhenti menunggu perasaan “akhirnya saya punya tempat” yang mungkin tidak pernah benar-benar datang dalam bentuk yang kamu bayangkan.

Kadang kamu memang hanya visitor. Dan itu bukan hal yang memalukan.

Saya pernah berada di tahap di mana saya pikir kalau saya tidak bisa merasa belong di suatu tempat, berarti ada yang salah dengan saya. Terlalu pemilih. Terlalu sulit dibawa masuk. Terlalu… apa pun yang membuat saya merasa kurang.

Tapi sekarang saya mulai berpikir berbeda. Mungkin beberapa hubungan, beberapa tempat, beberapa fase hidup memang dirancang hanya untuk kamu singgahi. Bukan untuk kamu diami selamanya. Dan ada keindahan tersendiri dalam kehadiran yang singkat tapi tulus, dibandingkan kehadiran yang panjang tapi setengah hati.

Lagu Sienna mengingatkan saya bahwa kerentanan bukan tentang memperlihatkan semua luka. Kadang kerentanan adalah mengakui dengan jujur bahwa kamu tidak selalu tahu ke mana kamu pulang. Dan masih oke untuk terus jalan walau belum menemukan jawaban itu.

Jadi kalau kalian sedang di titik itu sekarang, merasa seperti selalu jadi tamu di mana-mana dan tidak pernah benar-benar punya tempat, dengarkan lagu ini. Bukan untuk dapat jawaban. Tapi untuk tahu bahwa ada orang lain yang merasakannya juga, dan mereka baik-baik saja.

Begitu juga kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *