Kami Hidup di Dunia yang Terlalu Sering Membandingkan

Ada yang menarik dari generasi yang tumbuh dengan layar selalu menyala.

Mereka tidak pernah benar-benar belajar cara melihat diri sendiri tanpa dulu melihat orang lain. Bukan karena malas. Bukan karena dangkal. Tapi karena sistem yang mereka tumbuh di dalamnya memang tidak dirancang untuk itu. Sejak awal, ukurannya sudah ditetapkan dari luar: berapa yang follow, berapa yang like, seberapa jauh pencapaian kalian dibanding orang yang usianya sama.

Dan mereka menerima sistem itu sebelum cukup umur untuk mempertanyakannya.

Saya perhatikan ini dari cara mereka berbicara soal diri sendiri. Selalu ada rujukan ke orang lain di dalamnya. Teman saya sudah kerja di sini. Anak orang lain sudah begitu di umur segitu. Saya ketinggalan. Kalimat-kalimat itu keluar bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cara mereka mengkalibrasi posisi mereka sendiri. Mereka tidak punya alat ukur internal yang cukup kuat, jadi mereka pinjam alat ukur orang lain dan mencoba pas-paskan ke hidup mereka sendiri.

Hasilnya bisa ditebak. Tidak pernah pas. Dan mereka menyimpulkan itu sebagai kekurangan diri sendiri.

Yang ironis adalah mereka hidup di zaman dengan lebih banyak akses, lebih banyak pilihan, dan lebih banyak kemungkinan dari generasi manapun sebelumnya. Tapi justru karena itu, tekanannya juga lebih besar. Dulu orang membandingkan diri dengan lingkaran kecil di sekitar mereka. Sekarang lingkaran itu mencakup seluruh internet, dan internet tidak pernah kehabisan orang yang kelihatan lebih jauh ke depan.

Jadi mereka scroll terus. Melihat terus. Membandingkan terus.

Dan di tengah semua itu, prosesnya sendiri tidak pernah kelihatan cukup layak untuk dihargai. Karena proses tidak fotogenik. Proses tidak menghasilkan konten yang bagus. Yang naik ke permukaan selalu hasilnya, bukan perjalanannya, dan mereka belajar mengukur diri dari permukaan orang lain sambil menyembunyikan permukaan mereka sendiri yang masih berantakan.

Saya tidak mengkritik mereka karena lemah. Saya mengkritik sistemnya.

Platform yang keuntungannya bergantung pada ketidakpuasan pengguna tidak punya insentif untuk membuat orang merasa cukup. Algoritma yang mengoptimalkan waktu layar akan selalu memprioritaskan konten yang memancing respons emosional, dan iri adalah respons emosional yang sangat efisien. Mereka tidak terperangkap karena tidak cerdas. Mereka terperangkap karena perangkapnya didesain oleh orang-orang yang sangat cerdas dan dibayar sangat baik untuk membuatnya tidak kelihatan seperti perangkap.

Yang paling saya sayangkan adalah banyak dari mereka yang tidak pernah sempat tahu seperti apa rasanya menilai diri sendiri dari dalam. Mereka belum pernah duduk cukup lama dengan progres mereka sendiri tanpa langsung membandingkannya dengan progres orang lain. Mereka belum pernah benar-benar merayakan langkah kecil karena langkah kecil tidak terlihat kecil kalau dibandingkan dengan pencapaian besar yang terus-menerus mereka konsumsi.

Proses yang tidak diunggah tetap nyata. Tapi mereka butuh waktu untuk percaya itu.

Dan sementara mereka masih mencari cara untuk percaya, dunia terus memproduksi konten baru yang siap membuat mereka merasa belum cukup lagi.

Begitu terus. Sampai ada yang memutuskan untuk berhenti mengukur dari luar.

Tidak banyak yang sampai di titik itu. Tapi yang sampai, biasanya tidak kembali ke cara lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *