POV: Kamera Dulu, Baru Tolong

Saya pernah lihat seseorang berdiri diam selama hampir satu menit merekam kucing yang kakinya tersangkut di pagar.

Bukan karena tidak tahu harus berbuat apa. Tapi karena angle-nya belum pas.

Begitu dapat shot yang bagus, barulah tangannya bergerak melepaskan kucing itu. Semua terekam rapi. Ekspresinya serius, terlihat seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang penting. Latar belakangnya cukup estetik. Kucing itu meongi pelan di akhir video, timing yang sempurna.

Video itu naik ke TikTok dengan teks: “POV: Menolak Menyerah pada Keadaan.” Dapat dua puluh ribu views dalam sehari. Kolom komentar penuh dengan “Kakak baik banget” dan “Semoga dibalas kebaikannya.”

Saya tidak tahu apakah harus salut atau tidak nyaman.

Ada pergeseran yang pelan-pelan terjadi dan tidak terlalu banyak orang komentari. Kebaikan yang dulu sifatnya pribadi, impulsif, tidak terencana, sekarang punya alur produksi tersendiri. Ada tahap pra-produksi di mana HP dikeluarkan dan kamera dibuka. Ada tahap produksi di mana tindakannya dilakukan sambil pastikan semuanya terbingkai dengan baik. Ada tahap pasca-produksi di mana videonya diedit, dikasih lagu melankolis yang tepat, lalu dikasih teks yang cukup emosional untuk bikin orang berhenti scroll.

Dan baru setelah semua itu selesai, kebaikannya dianggap benar-benar terjadi.

Saya tidak sedang bilang bahwa semua orang yang merekam momen seperti ini punya niat buruk. Ada yang mungkin memang tulus dan rekaman itu hanya spontan. Tapi ada juga yang membuat saya bertanya-tanya: kalau kameranya tidak ada, apakah tindakan itu tetap akan dilakukan?

Pertanyaan itu lebih sulit dijawab dari yang terlihat.

Karena kita sudah hidup cukup lama di ekosistem di mana validasi eksternal jadi salah satu kebutuhan yang tidak disadari. Kebaikan yang tidak ada yang lihat terasa seperti kebaikan yang tidak terlalu nyata. Kebaikan yang tidak didokumentasikan terasa seperti kebaikan yang terbuang. Seperti pohon yang jatuh di hutan tanpa ada yang mendengar. Apakah itu benar-benar terjadi?

Format POV memperparah ini. Karena ia tidak hanya merekam kejadian, ia membangun narasi. “POV: Ketika kamu memilih untuk peduli.” “POV: Masih ada orang baik di dunia ini.” Teks itu bukan deskripsi, ia adalah framing. Penonton diajak untuk melihat si perekam sebagai protagonis dalam cerita moral, bukan sekadar orang yang kebetulan ada di tempat dan waktu yang tepat.

Dan itu membuat saya bertanya-tanya tentang hal lain. Bagaimana rasanya jadi orang yang ditolong dalam kondisi itu? Orang tua yang mau menyebrang, yang tiba-tiba ada kamera diarahkan ke wajahnya sebelum ada tangan yang membantu. Orang yang motornya mogok di pinggir jalan, yang momen kebingungannya direkam sebagai “konten” sebelum ada yang tanya apakah butuh bantuan.

Apakah itu terasa seperti pertolongan? Atau terasa seperti jadi properti dalam video orang lain?

Yang paling menyindir adalah lagu latarnya. Selalu melankolis. Selalu pelan. Dipilih dengan cermat untuk memaksimalkan efek emosional. Saya tidak pernah lihat video POV menolong orang yang pakai lagu dangdut koplo, padahal lagu itu jauh lebih jujur menggambarkan energi orang Indonesia yang spontan dan tidak dibuat-buat.

Tapi koplo tidak menjual kesedihan. Dan kesedihan yang terkendali adalah yang paling mudah dimonetisasi di kolom komentar.

Saya tidak punya solusi untuk ini. Saya tidak tahu cara memisahkan kebaikan yang tulus dari kebaikan yang dikemas untuk konsumsi publik, karena mungkin keduanya bisa ada bersamaan dalam satu tindakan dan itu sah saja secara manusiawi.

Tapi ada satu hal yang saya harap masih ada di suatu tempat. Kebaikan yang dilakukan diam-diam. Yang tidak direkam. Yang tidak punya teks overlay. Yang tidak tahu berapa views-nya karena memang tidak pernah diupload.

Yang cukup hanya karena dilakukan. Bukan karena ada yang melihat.


Catatan: Tulisan ini adalah fiksi reflektif. Karakter dan kejadian di dalamnya tidak merujuk pada orang atau peristiwa nyata secara spesifik. Ini hanya cerminan dari pola yang sering saya amati di sekitar, ditulis sebagai bahan perenungan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *