Satu Detik yang Berhenti

Saya pernah ngalamin momen yang cuma berlangsung satu detik, tapi nempel di kepala bertahun-tahun. Bukan momen besar. Nggak ada percakapan, nggak ada nomor telepon yang ditukar, nggak ada kelanjutan apa-apa. Cuma satu detik di mana mata saya nggak sengaja ketemu mata seseorang, di tengah gerbong KRL yang penuh sesak.

Detik itu aneh. Semua suara di sekitar, derit rel, obrolan orang, pengumuman stasiun, semuanya kayak di mute. Yang kerasa cuma jantung yang tiba-tiba skip satu ketukan, terus lanjut lagi seperti nggak terjadi apa-apa. Padahal terjadi. Cuma kalian aja yang tahu.

Yang bikin momen kayak gini menarik adalah, nggak ada ekspektasi di dalamnya. Kalian nggak mikirin masa depan, nggak mikirin “ini bakal jadi apa”. Kalian cuma hadir penuh di satu detik itu, tanpa beban apapun. Dan justru karena nggak ada beban itu, momennya jadi murni.

Saya juga pernah ngalamin yang lain. Pertama kali denger seseorang ketawa, dari jarak yang cukup jauh, suaranya khas, lepas, nggak dibuat-buat. Saya bahkan nggak lihat orangnya dulu. Tapi suara itu aja udah cukup bikin saya nengok, dan entah kenapa, momen itu ikut nempel.

Kadang saya mikir, kenapa hal-hal kecil kayak gini lebih nempel daripada momen besar yang udah direncanakan. Mungkin karena momen besar selalu ada ekspektasinya. Sementara satu detik ini muncul begitu aja, tanpa diundang, dan pergi secepat datangnya.

Nggak semua momen harus berlanjut supaya berarti. Satu detik itu sudah selesai dengan sendirinya. Kalian turun di stasiun yang berbeda, orang itu hilang di antara kerumunan, dan hidup kalian jalan terus seperti biasa.

Tapi ada satu hal yang berubah, meskipun kecil. Untuk sesaat, kalian diingatkan bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang punya cerita sendiri, dan kadang cerita itu bersinggungan sama cerita kalian, walau cuma satu detik.

Dan mungkin itu cukup. Bukan setiap momen butuh kelanjutan. Beberapa momen memang diciptakan untuk berhenti di situ saja, lalu jadi sesuatu yang kalian simpan diam-diam, tanpa perlu cerita ke siapa-siapa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *