Saya punya teman yang kalau diajak nongkrong selalu bilang “iya dulu” lalu cancel H-1. Saya juga punya teman yang langsung bilang “nggak bisa” tapi besoknya keliatan story di mall. Dua-duanya sama salahnya, bukan karena nolak, tapi karena nolak dengan cara yang bikin orang lain bingung dan diri sendiri tetap guilty.
Padahal menolak ajakan itu bukan kejahatan. Kita susah bilang tidak bukan karena terlalu baik hati atau takut konflik, tapi karena kita mikir penolakan kita akan merusak hubungan. Padahal yang merusak hubungan bukan penolakannya, tapi cara kita menolak. Bilang “nanti ya, liat jadwal dulu” padahal dari awal udah tahu nggak mau pergi itu lebih menyakitkan daripada langsung bilang tidak. Kalian cuma menunda ketidaknyamanannya ke diri sendiri, dan mentransfer ekspektasi palsu ke orang lain.
Hal paling penting yang banyak orang skip adalah bedain “nggak mau” sama “nggak bisa”. Nggak bisa artinya ada halangan eksternal, kerja, sakit, ada urusan. Nggak mau artinya kalian memilih untuk tidak pergi, dan itu sah. Masalahnya banyak dari kita selalu pakai “nggak bisa” padahal sebenarnya “nggak mau”, karena merasa “nggak mau” terdengar egois. Padahal kejujuran yang disampaikan dengan baik jauh lebih menghargai orang lain daripada alasan palsu yang terdengar sopan. Kalau kalian sudah capek, butuh recharge, atau memang nggak mood, itu cukup. Nggak perlu drama tambahan.
Cara menolak yang paling bersih adalah langsung, jelas, tanpa over-explain. “Makasih ajakannya, kali ini saya skip dulu ya. Lain kali ajak lagi.” Tidak perlu cerita panjang, tidak perlu minta maaf berkali-kali, tidak perlu kasih alasan yang lebay supaya terdengar valid. Orang yang tepat akan mengerti. Orang yang nggak mengerti, penjelasan panjang pun nggak akan cukup buat mereka.
Soal rasa bersalah, itu wajar muncul. Tapi kalian perlu tanya ke diri sendiri, bersalah karena apa? Kalau bersalah karena memang tahu niat kalian tidak jujur, perbaiki caranya. Kalau bersalah hanya karena memilih kebutuhan sendiri di atas ekspektasi orang lain, itu bukan rasa bersalah yang perlu didengarkan. Kalian tidak bisa selalu hadir untuk semua orang, dan kalian tidak seharusnya. Energi kalian terbatas, pilih dengan sadar di mana kalian mau hadir, dan hadirlah sepenuhnya di sana. Itu jauh lebih berharga daripada datang ke mana-mana dengan setengah hati.
Satu hal yang sering dilupakan adalah menolak ajakan bukan berarti kalian menolak orangnya. Kalau seseorang nggak bisa membedakan dua hal itu, itu bukan soal kalian. Tapi kalian juga perlu jujur ke diri sendiri, apakah kalian menolak karena memang butuh ruang, atau karena perlahan menghindari hubungan itu? Kalau yang kedua, itu perlu dibicarakan, bukan disiasati dengan penolakan terus-menerus.
Menolak itu skill. Butuh latihan supaya keluar dengan tulus, bukan defensif. Mulai dari yang kecil, latihan bilang tidak untuk hal-hal yang memang bukan prioritas kalian. Lihat apa yang terjadi. Kebanyakan dari kita akan kaget, ternyata dunia tidak runtuh.