Selalu Asing, Sesekali Dikenal

Ada orang yang hidupnya baik-baik saja di permukaan. Dia pergi ke tempat-tempat, ketemu orang-orang, ikut ngobrol. Tapi di dalam sana, dia selalu merasa asing. Di mana pun dia berada.

Bukan asing dalam arti tidak dikenal. Orang-orang tahu namanya. Tapi ada perbedaan besar antara dikenal dan diperhatikan. Dan dia, selama ini, lebih sering masuk kategori pertama.

Sampai seseorang, di suatu momen yang biasa saja, melakukan hal yang sangat sederhana.

Mungkin cuma nanya, “eh kamu tadi bilang apa?” sambil beneran nunggu jawabannya. Atau ingat sesuatu yang dia bilang minggu lalu. Atau cuma ketawa duluan sebelum dia selesai ngomong karena sudah ngerti ke mana arahnya. Hal-hal kecil yang kebanyakan orang lewatkan begitu saja.

Tapi buat dia, itu beda cerita.

Dalam hitungan menit, dia sudah merasa seperti kenal orang itu bertahun-tahun. Nyambung banget. Akrab banget. Rasanya aneh tapi juga melegakan, seperti akhirnya bisa bernapas di tempat yang biasanya pengap. Dia jadi lebih cerewet, lebih terbuka, lebih ada. Bukan karena dia berpura-pura. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada seseorang yang membuat dia merasa layak didengar.

Sebentar saja, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa berbeda.

Dan kemudian orang itu pergi. Atau sekedar balik ke aktivitasnya. Atau percakapannya selesai karena memang sudah selesai.

Dan dia, kembali ke kondisi sebelumnya. Semudah itu.

Balik jadi orang yang ada tapi tidak terasa ada. Balik ke keramaian yang tidak menyentuhnya. Balik ke versi dirinya yang sudah terlalu terbiasa tidak diperhatikan sampai lupa bahwa itu bukan hal yang normal untuk dibiasakan.

Yang paling berat bukan momen saat orang itu pergi. Yang paling berat adalah betapa cepatnya dia merasa akrab, hanya dari perhatian sekecil itu. Karena itu artinya standarnya sudah turun sangat jauh tanpa dia sadar. Seseorang cukup melihatnya sebentar, dan dia sudah merasa seperti menemukan teman lama.

Itu bukan lebay. Itu tanda bahwa dia sudah terlalu lama tidak merasakan hal yang sesederhana itu.

Kalian mungkin pernah jadi orang yang memberi perhatian itu, tanpa sadar betapa berartinya momen singkat tersebut bagi seseorang di seberang kalian. Dan mungkin kalian juga pernah jadi orang yang menunggunya.

Kalau iya, saya hanya ingin bilang satu hal, kamu tidak aneh. Kamu hanya sudah terlalu lama berdiri di luar, sampai pintu yang setengah terbuka pun terasa seperti rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *