Ada pesan yang tidak pernah sampai ke inbox siapapun.
Bukan karena koneksi putus. Bukan karena salah kirim. Tapi karena jari ini berhenti sebelum tombol kirim sempat disentuh.
Di dunia email, ada yang namanya sandbox. Tempat di mana pesan ditahan dulu sebelum benar-benar dikirim, diperiksa apakah aman atau justru berbahaya bagi sistem yang menerimanya. Kalau dianggap ancaman, pesan itu tidak akan pernah sampai. Akan terus duduk di sana, diam, tidak dibaca siapapun.
Saya rasa, begitu juga cara kerja perasaan saya ke kamu.
Ceritanya selalu sama. Saya duduk di depan layar, jari sudah mengetik panjang lebar. Kadang itu pesan WhatsApp tiga paragraf yang saya tulis jam sebelas malam. Kadang itu curhatan setengah jadi yang saya simpan di Notes, berulang kali dibaca ulang, berulang kali direvisi.
Dan kemudian saya hapus.
Bukan karena kata-katanya salah. Tapi karena setiap kali membaca ulang, saya mulai melihat semua kemungkinan buruknya. Bagaimana kalau dia jadi canggung? Bagaimana kalau dia tidak tahu harus jawab apa? Bagaimana kalau setelah ini, obrolan kita tidak pernah sama lagi?
Pikiran saya menjalankan semacam pemeriksaan otomatis. Dan setiap kali, perasaan itu dianggap terlalu berisiko untuk dikirim.
Yang menyebalkan dari sandbox pikiran sendiri adalah ia tidak pernah memberikan keputusan final. Perasaan itu tidak dihapus permanen. Tidak juga dikirim. Ia hanya ditahan. Terus ada, terus mengambil ruang, terus mempengaruhi cara saya bereaksi waktu nama dia muncul di notifikasi.
Saya jadi terlalu memperhatikan hal kecil. Cara dia tertawa waktu saya cerita sesuatu yang tidak lucu-lucu amat. Cara dia selalu balas pesan saya cepat, padahal ke yang lain tidak. Saya kumpulkan detail-detail itu seperti bukti, seolah kalau cukup banyak, saya akan cukup berani.
Tapi tidak pernah cukup.
Ada teori yang saya pegang sendiri, meskipun saya tahu itu tidak sepenuhnya benar. Bahwa selama perasaan ini tetap di dalam sandbox, semuanya masih aman. Pertemanan kita masih utuh. Tidak ada yang awkward. Tidak ada yang perlu pura-pura tidak terjadi.
Tapi ada harga yang harus dibayar untuk keamanan itu.
Saya bayar dengan berdiam diri waktu sebenarnya ingin bicara. Saya bayar dengan mengirim pesan singkat padahal yang ingin saya kirim jauh lebih panjang. Saya bayar dengan pura-pura biasa saja setiap kali kita bertemu, sementara di dalam kepala saya sedang ada banyak hal yang ingin saya katakan tapi tidak jadi-jadi.
Itu bukan tanpa biaya. Itu hanya biaya yang saya tanggung sendiri, diam-diam.
Saya tidak tahu tulisan ini akan berakhir ke mana. Saya tidak punya jawaban soal apakah lebih baik dikirim atau tetap disimpan. Mungkin suatu hari, saya akan bosan jadi sistem yang menahan pesan milik sendiri.
Atau mungkin tidak.
Yang saya tahu, perasaan ini sudah terlalu lama duduk di antrean. Sudah terlalu sering diketik, dibaca ulang, lalu dihapus. Sudah terlalu banyak malam habis untuk memikirkan kemungkinan yang tidak pernah benar-benar saya coba.
Dan mungkin itu sendiri sudah cukup menyedihkan.
Bukan perasaannya. Tapi fakta bahwa saya tidak pernah membiarkannya sampai.