Di umur dua puluhan, semua orang tiba-tiba punya pendapat soal hidup kalian.
Kapan kerja? Sudah nabung belum? Pacarnya mana? Kapan nikah? Rencananya mau ngapain? Pertanyaan-pertanyaan itu datang dari berbagai arah, dari orang tua, dari keluarga besar yang ketemu setahun sekali, dari teman yang hidupnya kelihatan lebih tertata, dari konten-konten di medsos yang selalu berhasil membuat kalian merasa tertinggal.
Dan di tengah semua kebisingan itu, kalian duduk sendirian sambil bertanya-tanya: sebetulnya saya ini mau jadi apa?
Itulah quarter life crisis. Tapi bukan versi yang sering dibahas di artikel motivasi, yang isinya cuma soal bingung pilih jalur karier atau takut tidak sukses sebelum tiga puluh. Yang sebenarnya jauh lebih luas, lebih berantakan, dan lebih personal dari itu.
Soal Identitas
Di umur ini, banyak orang baru mulai menyadari bahwa sebagian besar dari “diri mereka” selama ini dibentuk oleh ekspektasi orang lain. Jurusan yang dipilih karena kata orang tua bagus. Kepribadian yang dibentuk supaya diterima di lingkungan tertentu. Nilai-nilai yang dipegang karena memang itu yang diajarkan, bukan karena benar-benar dipikirkan sendiri.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ada ruang untuk mempertanyakan itu semua. Apakah ini benar-benar saya? Atau ini versi saya yang dibuat supaya tidak mengecewakan siapapun?
Proses itu tidak nyaman. Karena kalau jawabannya ternyata banyak yang bukan diri kalian sendiri, berarti harus ada yang dibongkar. Dan membongkar sesuatu yang sudah lama berdiri itu melelahkan, bahkan kalau hasilnya nanti lebih baik.
Soal Hubungan
Pertemanan di umur dua puluhan mulai berasa berbeda. Ada yang mulai berpencar ke kota lain. Ada yang fokus ke hubungan romantis masing-masing. Ada yang tenggelam dalam pekerjaan. Intensitas yang dulu terasa natural sekarang butuh effort yang lebih besar untuk dipertahankan.
Dan kadang kalian sadar bahwa beberapa pertemanan yang kalian pikir akan bertahan selamanya ternyata perlahan menipis. Bukan karena ada masalah. Tapi karena masing-masing hidupnya sudah bergerak ke arah yang berbeda.
Di saat yang sama, hubungan romantis di fase ini juga punya bebannya sendiri. Ada tekanan sosial soal kapan harus serius, kapan harus menikah, apakah orang ini yang tepat atau kalian cuma takut sendirian. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban yang mudah, dan tidak ada jadwal yang bisa dijadikan patokan.
Soal Uang
Tidak ada yang benar-benar mengajarkan cara mengelola uang waktu kalian muda. Dan tiba-tiba di umur dua puluhan, kalian dihadapkan pada kenyataan bahwa gaji pertama tidak sebesar yang dibayangkan, kebutuhan lebih banyak dari yang diantisipasi, dan tabungan idealnya sudah harus ada tapi entah dari mana mulainya.
Ditambah lagi tekanan untuk tetap terlihat hidup normal di hadapan orang-orang seusia. Nongkrong, jalan-jalan, ikut acara, berpakaian layak. Semua itu butuh uang yang berasa tidak pernah cukup.
Lalu ada rasa bersalah kalau terlalu berhemat, dan rasa cemas kalau terlalu boros. Kalian tidak pernah benar-benar merasa di posisi yang tepat.
Soal Keluarga
Di umur ini, banyak yang mulai melihat orang tua mereka dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai figur yang serba tahu, tapi sebagai manusia biasa yang juga punya keterbatasan, ketakutan, dan luka mereka sendiri.
Itu bisa jadi proses yang membebaskan sekaligus menyedihkan. Karena begitu kalian melihat orang tua sebagai manusia, kalian juga mulai memikul beban yang berbeda. Ada yang mulai merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Ada yang bergulat dengan ekspektasi keluarga yang tidak selaras dengan arah yang ingin mereka tuju. Ada yang baru menyadari bahwa pola-pola tertentu yang mereka bawa dari rumah perlu diubah supaya tidak terus berulang.
Semua itu berat. Dan tidak selalu ada tempat yang aman untuk membicarakannya.
Soal Masa Depan
Ini yang paling abstrak dan sekaligus paling menekan. Masa depan terasa seperti sesuatu yang harus sudah direncanakan dari sekarang, tapi juga terlalu kabur untuk benar-benar bisa direncanakan dengan pasti.
Kalian melihat teman-teman yang kelihatan sudah punya arah, sudah punya target, sudah tahu mau ke mana. Dan kalian bertanya-tanya apakah kalian ketinggalan sesuatu, atau apakah sebetulnya mereka juga sama bingungnya tapi lebih pandai menyembunyikannya.
Jawabannya, lebih sering dari yang kalian kira, adalah yang kedua.
Ini Normal, Tapi Tidak Harus Dilewati Sendirian
Quarter life crisis tidak punya solusi instan dan tidak ada timeline yang benar untuk menyelesaikannya. Tapi ada satu hal yang mungkin perlu diingat: bingung di fase ini bukan tanda bahwa kalian gagal. Itu tanda bahwa kalian sedang tumbuh ke arah yang lebih jujur tentang siapa kalian dan apa yang sebetulnya kalian inginkan.
Tidak semua pertanyaan harus dijawab sekarang. Tidak semua hal harus sudah beres di umur dua puluh sekian. Beberapa hal memang butuh waktu, dan terburu-buru menyelesaikannya justru sering menghasilkan jawaban yang bukan benar-benar milik kalian.
Santai sedikit. Bukan berarti tidak usaha. Tapi cukup kasih diri kalian ruang untuk tidak selalu punya jawaban atas semua hal sekaligus.
Kalian sedang di proses yang benar. Meskipun rasanya tidak selalu terasa seperti itu.