Lima orang duduk di satu meja. Kopi sudah datang. Tapi tidak ada yang ngobrol.
Yang ada hanya suara jempol yang scroll, sesekali tawa pelan karena meme, dan seseorang yang sesekali bilang “eh liat ini” sambil nyorongin layar ke muka temannya. Si teman lihat sebentar, ketawa dua detik, lalu balik ke layarnya sendiri.
Saya duduk di meja sebelah, pesan kopi yang sama mahalnya, dan memperhatikan semua ini sendirian.
Ada ironi besar yang tidak ada yang komentari di sini. Mereka tadi macet-macetan di jalan untuk sampai ke tempat ini. Parkir motor muter-muter dulu. Antri pesan. Bayar kopi yang harganya cukup untuk beli makan siang dua kali. Semua itu dilakukan supaya bisa duduk satu meja bersama.
Dan begitu duduk, mereka memilih untuk ada di tempat lain.
Kata “nongkrong” sebetulnya punya makna yang cukup kaya. Kumpul. Ngobrol. Buang waktu bersama tanpa agenda yang jelas. Ada sesuatu yang intim dari konsep itu, dua orang atau lebih yang memilih untuk hadir di ruang yang sama dan membiarkan obrolan mengalir ke mana saja.
Tapi definisi itu sepertinya sedang bergeser pelan-pelan menjadi sesuatu yang lain. Nongkrong sekarang lebih ke soal kehadiran fisik. Tubuhnya ada di sana. Sudah cukup.
Waktu salah satu dari mereka akhirnya ngomong, yang lain merespons dengan “Hah? Apaan?” tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Si penanya mengulang kalimatnya. Yang ditanya lihat sebentar, jawab pendek, lalu balik scroll lagi. Percakapan selesai dalam dua belas detik.
Saya perhatikan ini bukan sekali dua kali. Ada pola yang sangat konsisten. Seseorang bicara. Yang lain setengah mendengar. Mata tetap di layar. Respons minimal. Topik mati sebelum sempat berkembang. Lalu hening lagi, tapi bukan hening yang nyaman, hening karena memang tidak ada yang benar-benar hadir.
Yang menarik, kalau kalian tanya mereka apakah tadi nongkrong, jawabannya pasti iya. Dan secara teknis mereka tidak salah. Mereka memang duduk bersama. Di tempat yang sama. Dalam waktu yang bersamaan.
Tapi ada sesuatu yang hilang dari persamaan itu.
Saya tidak bisa tidak membayangkan betapa mahalnya sekarang harga sebuah obrolan yang benar-benar terjadi. Bukan obrolan yang diselingi notifikasi. Bukan obrolan yang salah satu pihaknya sambil scroll TikTok. Bukan obrolan yang berakhir karena seseorang menemukan sesuatu yang lebih menarik di dalam kotak kaca 6 inci yang ada di tangannya.
Obrolan yang dua orang duduk, menaruh HP di saku, dan benar-benar mendengarkan sampai kalimat selesai.
Itu sekarang terasa seperti kemewahan.
Bukan karena orang tidak mau. Tapi karena kebiasaan itu sudah terlalu dalam tertanam. Tangan yang otomatis meraih HP setiap kali ada jeda dua detik dalam percakapan. Mata yang refleks berpindah ke layar waktu obrolan mulai tidak terlalu seru. Otak yang sudah terlatih untuk terus-menerus mencari stimulasi baru yang lebih cepat, lebih pendek, lebih instan dari apapun yang bisa ditawarkan oleh percakapan manusia biasa.
Percakapan manusia lambat. Tidak selalu menarik. Kadang ada awkward silence yang tidak bisa di-skip. Kadang topiknya tidak relevan. Kadang harus menunggu giliran bicara cukup lama.
HP tidak punya masalah itu. Kalau kontennya membosankan, tinggal scroll. Selalu ada yang lebih menarik satu gesekan jari ke bawah.
Dan meja sebelah saya sudah duduk di sana hampir satu jam. Kopinya hampir habis. Mereka akan segera pulang, masing-masing ke motornya sendiri, melewati macet yang sama yang tadi mereka lalui untuk ke sini.
Besok atau lusa, mungkin salah satu dari mereka akan posting foto kopi tadi dengan caption “quality time sama anak-anak.”
Dan tidak ada yang akan mempertanyakan definisi dari quality time itu.